Welcome To My Blog...

Haiiii,,,Haiiii,,Salam Kenal Dari Aku, Untuk Para Pengunjung Blog Ini Yach,,,Selamat Membaca ,,,,

Kamis, 30 Agustus 2012

4 Kesalahan Besar Pengelolaan Uang yang Anda Lakukan

Tak semua orang bisa mengelola uang dengan baik. Banyak di antara kita yang tak punya tabungan, tak punya dana darurat, dan tenggelam dalam tumpukan utang. Kami bertanya pada pengusaha dan blogger finansial Fitz Villafuerte: apa kesalahan utama kita, dan apa yang harus dilakukan untuk memperbaikinya?


1. Kita memprioritaskan pengeluaran daripada simpanan sehingga tidak menyisakan apapun.

"Setiap mereka mendapatkan gaji mereka, mereka biasanya membelanjakan terlebih dahulu, dan kalau ada sisanya, itulah yang akan mereka tabung," kata Fitz Villafuerte. "Pada umumnya, tidak ada yang tersisa pada akhir bulan."

Solusi: Balik prosesnya. Pertama pisahkan sebagian dari gaji Anda untuk menabung, kemudian silakan habiskan sisanya. Villafuerte juga merekomendasikan untuk minta HRD perusahaan Anda untuk membantu: "Kamu bisa mendebet tabungan Anda secara otomatis. Minta HRD Anda untuk mengirimkan sebagian dari gaji Anda ke rekening lain di bank penggajian (payroll) kantor Anda." Metode proaktif ini membuat menabung tidak begitu menyusahkan. "Dengan begitu Anda tidak merasa kalau Anda menabung," kata Villafuerte. "Kamu tidak merasa bersalah jika menghabiskan apa yang tersisa. Menabung terasa lebih ringan dan menguntungkan."

2. Kita berinvestasi sebelum membuat dana darurat.

Villafuerte mengamati kalau kesalahan kedua yang sering dilakukan orang ketika mereka mendapatkan uang ekstra adalah berinvestasi sebelum mereka menyisihkan sebagian untuk dana darurat. "Mereka tidak menggunakannya terlebih dahulu untuk menyiapkan dana darurat," katanya. Dana darurat adalah fondasi dasar dari portfolio setiap orang, yang jumlahnya adalah: uang senilai enam kali biaya pengeluaran bulanan rumah tangga Anda, disimpan untuk kebutuhan darurat.

Solusi: Villafuerte merekomendasikan memiliki dana tersebut sebelum Anda menginvestasikan uang Anda. Bukannya dia tidak menganggap penting untuk membuat uang Anda bertambah, namun seperti masalah sebelumnya, masalah yang akan dihadapi ini adalah sesuatu yang merupakan prioritas. "Biaya rumah sakit, perbaikan mobil atau rumah yang mendadak tidak bisa Anda kesampingkan." Tanpa adanya dana darurat, kamu akan mencari utang atau mencairkan investasi Anda dengan segera.

3. Kita menghindari bursa saham.

Villafuerte menganggap bursa saham disalahartikan banyak orang. "Ketika Anda berbicara mengenai bursa saham, orang berpikir mengenai perdagangan saham, dan mereka jadi ketakutan, karena mereka pikir itu seperti berjudi," jelasnya. "Itu alasan mengapa hal itu kurang diberdayakan sebagai kendaraan investasi."

Selalu ingat: Perdagangan saham hanya merupakan sebagian kecil dari bursa saham. "Terdapat juga investasi bursa saham, yang lebih berupa jangka panjang," papar Villafuerte. "Jika warga lebih terdidik mengenai investasi [mengenai membeli saham atau menahannya untuk lima sampai tujuh tahun] Anda akan melihat kalau Anda mendapatkan lebih banyak dibandingkan jika Anda hanya menaruh uang Anda di deposito berjangka."

Namun Vilafuerte tidak mau memberikan nasihat mengenai bursa saham. Ia lebih memilih untuk mereferensikan brokernya: "Mereka menawarkan seminar gratis mengenai investasi bursa saham." Terdapat banyak masukan berkualitas di luar sana — namun Anda harus teliti mengenai hal itu.

4. Kita mendapatkan saran finansial dari orang yang salah.

Villafuerte telah melihat ini terlalu sering — pengusaha baru yang bertanya kepada temannya untuk nasihat bisnis gratis dan kena batunya. "Kita suka mengambil jalan pintas," tambahnya. "Mereka tidak melihat segala hal dari segi bisnis; mereka tidak bertanya kepada seorang pengusaha, 'bagaimana Anda menjalankan bisnis Anda?' jadi hal itu meningkatkan resiko kegagalan mereka."

Selalu ingat: Ada alasannya mengapa informasi tertentu gratis dan mudah didapatkan, kata Villafuerte: "Karena hal itu bukanlah nasihat terbaik yang bisa Anda dapatkan." Informasi bisnis yang berkualitas lebih sulit didapatkan. Ia teringat pada teman-temannya yang ingin berbisnis laundry dan meminta nasihatnya.

"Aku mengatakan kepadanya mengenai seminar operasi toko laundry di Nagoskwela: 'Kenapa kamu tidak hadir disana? Kamu akan mendapatkan nasihat dari orang-orang yang mengetahui bisnis itu.'" Temannya itu tidak menanggapi ide tersebut.

"Untungnya bisnisnya tidak hancur, namun memerlukan tiga tahun sebelum bisnis itu stabil." Dibandingkan dengan temannya yang lain yang menghadiri seminar laundry itu. "Ia menghadiri seminar toko laundry itu -- tokonya baru dibuka baru tiga bulan, namun sudah stabil," kenang Villafuerte. "Dari situ Anda dapat melihat perbedaannya: meminta nasihat mengenai uang, bisnis, atau investasi, dari orang yang cuma Anda kenal, dibandingkan mendapatkannya dari orang yang memang ahli di bidang itu."

Siapa yang Memegang Kendali Keuangan Rumah Tangga? Yahoo! SHE

Tanya:
Saya pegawai kantor dan suami saya wiraswasta. Kami baru 1 tahun menikah. Pertanyaan saya, siapa yang harus memegang kendali dan mengatur keuangan dalam rumah tangga? Kami mempunyai penghasilan sendiri-sendiri dan ada angsuran tiap bulannya untuk 1 tahun ke depan. Selama ini saya dan suami memegang dan mengatur keuangan sendiri-sendiri. Sudah tepatkah cara itu?

Rina, 23 tahun


Jawab:

Hai Rina,
kami coba menjawab pertanyaannya ya.

Untuk menentukan siapa yang mengatur keuangan rumah tangga, itu sebenarnya didasarkan pada kesepakatan kalian. Variasinya banyak dan tidak ada yang benar atau salah, semuanya tergantung pada kebutuhan. Yang penting dapat memberikan kenyamanan bagi kalian berdua.

Yang harus diperhatikan adalah jika profesi suami/istri adalah wiraswasta. Dalam kasus ini, karena suami adalah wiraswasta, maka yang harus dipisahkan adalah uang rumah tangga dengan uang keperluan bisnisnya. Sangat berbahaya jika tercampur menjadi satu karena pada intinya keperluan keluarga (seperti
uang makan harian) harus tetap terpenuhi walaupun bisnisnya sedang mengalami kendala.

Begitu pula dengan angsuran. Jika barang yang diangsur itu untuk keperluan keluarga, maka tagihannya menjadi bagian dari uang rumah tangga. Tapi jika angsuran tersebut untuk keperluan bisnis, maka pembayarannya harus diambil dari bagian bisnis suami.

Semoga cukup jelas ya.
 

Selasa, 14 Agustus 2012

Tips Menyiapkan Dana Pendidikan Anak Sejak Dini

Hai para bunda dan calon bunda . Sebagai orang tua yang bertanggung jawab, kita pasti sudah terpikirkan soal dana pendidikan anak. Meski sang anak masih kecil, banyak di antara kita yang sudah memikirkan biaya S1 nya.

Ada beberapa hal yang yang perlu kita ketahui untuk menyiapkan dana pendidikan buah hati tercinta.
Yang pertama adalah jangka waktu.

Saya langsung ambil contoh ya agar mudah, ada seorang ibu bernama Ceri dengan anak bernama Syauqi usia 9 bulan. Ceri mau menyiapkan dana Play Group (PG) untuk Syauqi. Rencananya Syauqi masuk PG umur 3 tahun. Berarti ada 2 tahun waktu bagi Ceri untuk menabung atau investasi dana PG ini.

Yang perlu diingat, bayaran anak sekarang biasanya lebih cepat 6 bulan. Sehingga untuk Syauqi, Ceri hanya punya waktu sekitar 1,5 tahun untuk menyiapkan dana PG. Waktu 1,5 tahun inilah yang disebut sebagai jangka waktu.

Yang kedua adalah nominal. Ceri harus sudah mulai bertanya berapa sih harga PG yang mau Syauqi masuki nanti. Misalnya tahun 2012 ini uang masuknya 1 juta. Ceri harus perkirakan uang masuk di tahun 2014 dengan inflasi pendidikan yang 20% per tahun.

Lalu banyak sekali orang tua yang bertanya mengenai Asuransi Pendidikan. Bagaimana dengan hal tersebut?

Hakikat asuransi adalah proteksi. Pendidikan sebaiknya masuk ke bagian investasi, bukan proteksi, karena akan tidak optimal. Jika ingin tetap memiliki, silakan saja. Tapi pastikan bahwa dengan asuransi pendidikan ini, kita tetap bisa memenuhi pendidikan si kecil.

"Produk keuangan seharusnya memfasilitasi kebutuhan keuangan kita dan bukan sebaliknya. Makanya, penting buat kita untuk paham soal kebutuhan kita sendiri." - Ligwina Hananto.

Mau tau lebih lanjut juga, silakan buka www.qmfinancial.com. Di situ ada kalkulator hitungan Dana Pendidikan.

Sebagai gambaran, berikut ini tabelnya:

Sumber: "Untuk Indonesia Yang Kuat" oleh Ligwina Hanato        










Jadi para bunda dan calon bunda, yuk mari siapkan dana pendidikan dengan angka yang pasti.

Selasa, 15 Mei 2012

Menjelang Pernikan

Setelah 9th Menjalani Hubungan Akhir nya kami pun memutuskan untuk menikah, ini semua berkat doa kami dan keyakinan kami kepada tuhan ,,,

Kami memilih lokasi free wed di bogor...Tgl 12 April 2012
Udah Dulu Yah Doakan Kami Agar bisa sukses acara di pernikahan kami nanti ,,,

Senin, 30 April 2012

Benarkah Pernikahan Rawan di Dua Tahun Pertama?

Tahun-tahun pertama menurut banyak orang merupakan tahun yang paling berat dalam menghadapi permasalahan dalam pernikahan. Perbedaan pendapat lebih sering terjadi, bahkan bukan tak mungkin Anda akan bertengkar hebat dengan suami. Setelah itu berlalu, segalanya jadi lebih mulus.
Benarkah demikian?

Sebagian besar ahli mengasumsikan bahwa dalam masa dua tahun pertama, senyawa-senyawa dalam otak Anda yang bertanggung jawab terhadap letupan-letupan cinta akan mengalami penurunan.
Senyawa itu adalah dopamin, phenylethylamine, dan oksitosin. Terkadang, efek yang terjadi adalah mulai menurunnya intensitas aktivitas seksual. Tidak heran apabila Anda lantas jadi cemas, jangan-jangan daya tarik Anda telah sirna. Atau, pernikahan tidak akan menarik lagi begitu gelombang cinta itu memudar.
Tetapi, para pakar berkata Anda tidak perlu cemas. Sebab, menurut Jennifer Garth, seorang psikolog, sebenarnya setelah dua tahun pertama ini berlalu, datanglah masa ketika komitmen dan dedikasi terhadap pasangan menjadi hal yang lebih penting. Anda telah siap memasuki hubungan jangka panjang dengan pikiran yang lebih dewasa, siap untuk mengambil keputusan bersama pasangan, dan siap menyongsong hal-hal besar yang akan datang dalam kehidupan rumah tangga Anda bersama-sama.

Apakah Anda Sudah Siap Menikah?

Pernikahan tanpa persiapan mental yang matang amat rawan terhadap perpisahan. Sebelum melangkah lebih jauh, lebih baik pastikan dulu, apakah Anda dan pasangan sudah siap mengarungi biduk rumah tangga. Psikoterapis Tina B. Tessina dalam buku “The Unofficial Guide to Dating Again” menuliskan beberapa hal yang harus Anda cermati sebelum menikah. Ini dia!

1. Definisikan komitmen
Anda dan pasangan harus menyadari, pernikahan bukanlah ikatan komitmen selama satu-dua bulan saja. Pernikahan adalah perjanjian antara Anda, pasangan dan Tuhan seumur hidup. Pastikan Anda dan pasangan memiliki komimen yang sama mengenai pernikahan. Jika tidak akan menjadi masalah dalam pernikahan Anda.

2. Tanggung jawab dalam pekerjaan rumah
Anda masih sangat tergantung pada orangtua atau pembantu rumah tangga dalam mengurus diri? Kurangi kebiasaan ini jika Anda ingin menikah. Saat menikah bukan hanya Anda harus bertanggung jawab pada diri sendiri, tapi juga pasangan. Walau terkesan kecil, namun saat berumah tangga, hal sepele seperti cucian piring bisa menjadi bibit pertengkaran.

3. Mengendalikan emosi
Pengendalian emosi merupakan hal utama saat mempersiapkan pernikahan. Jangan sampai emosi Anda yang mudah tersulut membuat pernikahan berantakan. Emosi yang tak terkendali sering kali membuat seseorang mudah mengatakan “pisah” atau “cerai”. Jika hal itu terjadi, hanya penyesalan yang akan dirasakan.

4. Pengelolaan keuangan
Keuangan akan menjadi sumber pertengkaran saat menikah nanti. Tak ada salahnya untuk berdiskusi dengan calon Anda mengenai hal ini. Buatlah kesepakatan bagaimana cara kalian mengelola pendapatan nantinya. Dengan hal ini kemungkinan Anda dan pasangan bersitegang karena uang menjadi kecil.

5. Menjalin hubungan dengan keluarga besar

Saat menikah Anda tidak hanya harus siap berhubungan dengan pasangan saja, namun juga seluruh keluarga besar. Jika saat berpacaran Anda merasa tak cocok dengan keluarganya, hal itu akan menjadi masalah saat menikah nanti. Pastikan juga hubungan Anda dan keluarga besar pasangan lancar dan akur sebelum memutuskan menikah.

6. Menemukan 'bahasa cinta' yang berbeda
Romantisme masa pacaran dengan menikah akan berbeda. Saat menikah, keintiman mungkin tak lagi menjadi santapan sehari-hari. Oleh karena itu, Anda dan pasangan harus lebih saling mengenal lebih jauh sehingga tak ada prasangka buruk yang timbul saat berumah tangga nanti.

Jadi, apakah Anda sudah siap menikah?